COMPETITIVE LANDSCAPE INDUSTRI KREATIF 4,0

Perkembangan teknologi bergerak cepat tanpa suara, bergeser kemudian berpindah dalam senyap dan nyaris tak terdengar, itulah kompetisi yang sedang berkembang saat ini, era industri 4,0 yang sudah menyelimuti kehidupan kita semua, dahsyatnya persaingan lintas generasi seolah tanpa sekat dan saling berkompetisi.

Generasi Babby Boomer mencoba untuk menyesuaikan diri dengan generasi X yang terlahir dengan industri 3,0, kemudian mereka sebut dengan generasi milenial yang hingga saat ini menjadi popular di masyarakat sebagai masyarakat milenial, belum lama sepak terjang generasi X, terlahir lagi generasi Z yang sejak dalam perut ibunya sudah mengenal apa itu teknologi, bahkan diumur balita mereka sudah mahir memainkan tools di komputer atau di gadget.

Pemandangan yang sudah biasa kita temui, acara makan malam bersama keluarga, yang mestinya menjadi ajang saling cerita dan tukar pengalaman antara ayah, ibu dan anak mereka, namun justru sebaliknya, berkumpulkan keluarga hanya sebagai ‘simbol keakraban yang semu’ karena mereka berkumpul namun tidak saling tegur sapa.

Suasana di rumah makan nampak jelas, seorang ayah asyik menjawab WA, sedangkan Ibu juga menyempatkan diri untuk jualan Online, sambil melihat produk-produk baru yang ditawarkan marketplace, sementara salah satu anaknya asyik bermain game online dengan menggunakan headset dan yang satunya lagi sibuk mengambil gambar hanya untuk kepentingan instagram.

Pemandangan ini hampir disetiap sudut kita temukan, entah itu di restoran, di tempat rekreasi, di layanan publik, bahkan saat bekerjapun dampak generasi teknologi industri 4,0 dan lintas generasi seolah menjadi manusia individualis. Simbiosis mutualisme antar generasi ini menunjukkan betapa cepatnya perkembangan dunia, dan betapa kita semua saling ketergantungan.

Semuanya serba mudah, segalanya saling berkaitan, itulah perkembangan teknologi 4.0, yang mau tidak mau harus kita hadapi, kita tidak bisa menghindarinya, bahkan menjadi kebutuhan ‘primer’ generasi milenial saat ini.

Ketika memasuki suatu tempat, maka awal yang dicari adalah WiFi gratis, termasuk tempat mencolok listrik. Mereka bukan saja membawa satu atau dua smartphone, tapi powerbank, menjadi kebutuhan tambahan untuk mengantisipasi jika HP mereka lowbatt.

Namun pernahkan kita berpikir bahwa selain dampak negatif yang kita bicarakan di atas ada juga dampak positif dari perkembangan teknologi 4,0 ini juga menjadi lahan subur untuk berkreasi sesuai dengan passion kita masing-masing, justru hal-hal yang kreatif menjadi peluang ter’viral’kan dalam berbagai media sosial.

Fenomena teknologi industri kreatif 4,0 khususnya yang cenderung beraliran “medsos mainded”, justru menjadi peluang lintas generasi untuk berkreasi dalam berbagai bidang, jangan hanya menjadi penikmat dan penggembira yang akibatnya hanya menghabiskan kuota internet namun hasilnya hanya kelelahan mata akibat terlalu lama memandangi HP.

Ada 3 kunci Sukses, untuk tetap Competitive Advantage di era teknologi industri 4,0. Landscape tersebut akan menyingkirkan pola-pola lama yang tradisional menuju pola yang modern dan profesional.

Pengelolaan bisnis memasuki peta baru dari yang dulunya “One Man Show” menuju “Group Performance Show”…”Family Business” menuju “Modern Professional Business”…”Public service business” menuju “Profit making Business” ….dan “Domestik Player” menuju “Global Player”

Untuk tetap bertahan menghadapi gempuran dan kedahsyatan teknologi 4,0 maka 3 hal yang harus dimiliki bagi mereka yang bergelut di dunia industri kreatif, apa saja itu:

  1. PRODUK KREATIF “BERNILAI” (valuable)

Jika produk Anda tidak bernilai maka ada kemungkinan Anda akan ditinggalkan oleh Customer, Produk yang berupa barang ataupun Jasa akan tidak dilirik oleh customer, manakala produk Anda tidak memiliki ‘nilai” (value). Perlu diingat, bahwa customer saat ini semakin selektif terhadap nilai suatu produk, selain harga (price) yang ditawarkan

Nilai (value) biasa diartikan sebagai harga, penghargaan, atau taksiran. Maksudnya adalah harga yang melekat pada sesuatu atau penghargaan terhadap sesuatu.

Beberapa definisi nilai menurut beberapa ahli : menurut Bambang Daroeso (1986) mengemukakan bahwa nilai adalah suatu kualitas atau penghargaan terhadap sesuatu, yang dapat menjadi dasar penentu tingkah laku seseorang sedangkan menurut Darji Darmodiharjo (1995) mengatakan bahwa nilai adalah kualitas atau keadaan sesuatu yang bermanfat bagi manusia, baik lahir maupun batin.

Robert W. Richey membagi nilai menjadi tujuh macam, yaitu: nilai intelektual, personal dan fisik, nilai kerja, nilai penyesuaian, nilai sosial, nilai keindahan, dan nilai rekreasi. Tergantung nilai mana yang melekat secara dominan pada produk kreatif yang Anda hasilkan.

2. PRODUK KREATIF “LANGKA” (uniqe)


Saat ini costumer sangat menyenangi barang yang langka, barang tidak banyak dijual dipasaran, itulah mengapo generasi milenial lebih menyukai berbelanja melalui onlibe, karena produknya tidak banyak dijual dipasaran, selain karena harganya memang relatif “miring” dibandingkan harga yang dijual di pasaran.

Itulah sebabnya mengapa kecenderungan costomer (khususnya di Indonesia) mengalami declyning, generasi milenial terhipnotis pada budaya konsumtif, bahkan lebih menjurus pada sekularisme dan kapitalis, dan ini menjadi makanan empuk produk global, jika tidak cepat berubah maka kekhawatiran kita adalah generasi akan datang akan sulit bersaing, untuk itu maka, industri kreatif harus tetap menghasilkan produk yang unik.

3. MAHAL UNTUK “DITIRU”

Konsep di era Industri Kreatif saat ini, adalah sesuatu yang dihasilkan diusahakan tidak mudah untuk di duplikasi “ditiru” walaupun dengan perkembangan teknologi yang tinggi, maka produk kreatif harus dapat membangun sistem teknologi dan jaringan yang memiliki tingkat “secret” (keamanan) yang tinggi.

Hal lain yang dapat dilakukan adalah dengan membuaty karya-karya kreatif yang inovatif, dan memiliki kebaruan, walaupun tidak benar-benar baru, karena hampir mustahil saat ini ada produk yang benar-benar original.

Konsep “mahal ditiru” lebih pada sistem yang digunakan, bisa saja pada manajemennya, kualitas SDM yang digunakan atau yang tren saat ini adalah mahal dalam sitem teknologi yang diterapkan.

Bagaimana dengan Anda?, sudah siapkah Anda berkompetisi di era industri kreatif 4,0? Belum terlambat, teruslah mencoba hal-hal yang baru, jadikan persaingan ini sebagai tantangan sekaligus peluang untuk tetap survive.

Salam kreatif, tetap berkarya

BASO MARANNU
Passionpreneur / Graphic Design

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *