DESAINER vs KLIEN YANG “CEREWET”

Hari ini, saya mencoba untuk mengulas tentang postingan yang menandai saya di Facebook kebetulan juga mitra basmaracademy yang berkecimpung di dunia Event organizer (EO), ada kata-kata yang menurut saya sangat menggelitik, dan kemungkinan besar inilah yang terjadi dilapangan, terutama mereka yang bergelut di dunia desain grafis.
Kurang lebih kata-katanya demikian “Sekumpulan Desainer Grafis, yang kliennya minta revisi berkali-kali lalu minta desain kembali ke awal” apa nggak sakit hati tuh!, sudah dibuatkan beberapa desain dan sekian alternatif, eh…buntut-buntutnya kembali juga ke desain awal yang ditawarkan oleh desainer kepada kliennya.
Sahabat Basmaracademy, menjadi seorang desainer grafis, selain kreativitas dan ketekunan juga di butuh kesabaran menghadapi klien. Kamu bisa bayangkan, bagaimana perasaan desainer yang sekian jam duduk mendesain didampingi oleh klien dengan berbagai alternatif dan perubahan, tahu-tahu setelah jenuh memberikan masukan akhirnya kembali juga ke desain awal yang di buat sebelumnya.
Ada pepatah mengatakan “pelanggan adalah raja”, artinya pelanggan memang harus diberikan pelayanan terbaik, dari jasa yang di tawarkan, namun ada kalanya pelanggan kurang memahami betapa sulitnya mendesain sesuatu, mungkin dia pikir, kan cuman mindahin dan menggoyangkan mouse di komuputer, apa susahnya? Terus melihat kelincahan desainernya juga menyebabkan pikiran klien berubah-ubah.
Ada beberapa hal yang menyebabkan tidak konsistenan klien ketika mendampingi atau memesan sebuah desain kepada desainernya.

  1. TAKJUB DENGAN KEMAHIRAN DESAINER
    Coba kamu perhatikan, setiap klien yang mendampingi seorang desainer di komputer, biasanya terkagum-kagum dengan kelincahan mengkomposisikan unsur-unsur desain, sehingga tanpa disadari, masukan dan perubahan yang diinginkannya membuat desainer kelabakan bahkan bingung yang mana sebenarnya keinginan klien, ketakjuban pemesan atau klien inilah yang menyebabkan selalu ingin berubah, bahkan mencoba-coba berbagai alternatif desain.
    Secara psikologi visual, klien menginginkan sesuatu yang berbeda bahkan lebih baik dari rancangan sebelumnya, namun yang tidak disadari oleh klien adalah “waktu” yang dibutuhkan untuk melakukan perubahan desain. Pada saat terkahir, ada tingkat kejenuhan pada alternatif desain yang dibutuhkan sehingga mengambil jalan pintas untuk kembali ke desain awal.
  2. TIDAK ADA DISKUSI AWAL ANTARA KLIEN DAN DESAINER
    Kesalahan yang terbesar dari desainer grafis pada umumnya adalah tidak mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya dari klien, tentang ide atau rancangan grafis yang diinginkan, akhirnya banyak waktu terluang di depan komputer, hanya mendiskusikan dan mengotak-atik unsur warna, huruf, ilustrasi yang disesuaikan dengan selera klien, tanpa mempertimbangkan prinsip desain.
    Kurangnya pemahaman klien akan prinsip desain yang berlaku secara umum, sehingga ide yang diinginkan sifatnya tentatif, dan mencul tiba-tiba, saat di desain, hal ini berakibat rancangan grafis yang dibuat tidak memliki dasar dan filosofi desain. Peristiwa semacam ini hampir terjadi di beberapa tempat periklanan (advertising) yang menawarkan jasa cetak tanpa memperhitungkan tingkat kesulitan mendesain.
    Untuk itu disarankan bagi desainer, agar mengumpulkan beberapa informasi penting mengenai desain yang ingin dibuatkan mulai dari Sasaran, waktunya, biaya produksi, bahan yang diinginkan, termasuk selera pemesan, serta ada perjanjian sebelumnya berapa karya alternatif yang harus dibuatkan oleh desainer.
  3. KEINGINAN YANG TERLALU TINGGI TAPI BUKAN KEBUTUHAN
    Bedakan antara keinginan dan kebutuhan klien, bisa jadi apa yang disarankan oleh klien tentang rancangan yang diharapkan hanya keinginan dan luapan emosi sesaat, padahal hal itu tidak prinsip, maka peran desainer harusnya dapat memberikan saran agar tidak terlau “menyiksa” dirinya untuk mencoba beberapa desain yang pada akhirnya tidak digunakan juga.
    Desainer harus mempu memberikan argumen dan penjelasan yang logis tentang sebuah rancangan yang mendasar yang berkaitan dengan ide uang ingin dituangkan jangan larus dengan hayalan klien.
    Pada prinsipnya kerjasama dan komunkiasi antara desainer dan klien harus terjalin baik, karena karya desain grafis lebih condong dan mengutamakan selera yang tidak ada batasannya. Kalaupun desainer menemukan klien yang “cerewet” harus disikapi secara bijak dan sabar, karena desainer harus paham terkadang klien tidak memahami ilmu seni mendesain, jadi harap maklum. Semoga informasi ini dapat menginspirasi.

Salam Kreatif, tetap berkarya.
Baso Marannu.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *