DI SEKOLAH IDOLAKU GURU SENI

Terima kasih Anda sudah sudah membaca dan memberikan tanggapan tulisan sebelumnya mengenai tantangan guru seni rupa di era digital, kali ini saya akan membahas mengenai fenomena menarik di sekolah, khususnya guru yang mengajar pelajaran seni, entah itu seni rupa, musik, tari dll.

Sengaja saya tulis mengenai guru seni yang sering menjadi idola bagi siswa di sekolah, untuk mengapresiasi atas sikap dan perilaku serta sistem pengajaran yang diterapkan oleh guru seni selama ini sehingga siswa menjadi senang sekaligus mengidolakannya.

Tentu Anda bertanya, mengapa sebagian besar guru seni cenderung disukai siswa, walaupun penampilannya terkadang santai, sederhana dan tidak neko-neko. Bukan berarti melebih-lebihkan, Anda boleh tanya dari sekian banyak siswa, hampir sebagian besar akan mengidolakan guru seni mereka. Ini pernah saya buktikan ketika masih terjun di dunia pendidikan. Sebagian

Apa resep jitu, yang membuat para guru seni diidolakan oleh siswanya,

  1. CENDERUNG HUMORIS

Ini kenyataan loh, boleh Anda buktikan sendiri, hampir sebagian besar guru seni itu memiliki sense of humour yang tinggi, karena dalam dunia seni dalam berkarya dituntut untuk rileks dan efek dari rileks itu sering kali berdampak pada sikap atau perilaku yang humoris, efek dari kebiasaan berkarya seni yang memerlukan suasana yang tidak tegang akan berdampak pada cara mereka bergaul, termasuk di sekolah. Beberapa sekolah yang pernah saya kunjungi, mengatakan bahwa guru seni itu kalau nggak hadir katanya nggak rame dan sekolah jadi sepi karena mereka senang dengan gurauan dan cerita-cerita lucu yang dilontarkannya.

Guru yang senang humoris tanpa menciptakan suasana ketegangan baik di kelas ataupun dilingkungkungan sekolah akan disenangi oleh siapapun, termasuk siswa. Itulah sebabnya mengapa guru seni yang humoris cenderung menjadi idola. Materi Pembelajaran akan terlaksana dalam suasana menggairahkan walaupun kadang-kadang materi pelajaran terasa agak sulit.

2. INTONASI BICARA CENDERUNG LEMBUT

Maklumlah, guru seni bisa juga dikatakan seniman, walaupun mereka kadangkala tidak bergelut dengan duis seni murni, tutur katanya cenderung bijak, mungkin perasaan hati mereka lebih mendominasi dalam berkarya. Seperti halnya seorang sastrawan, nada bicaranya juga mereka atur sedemikian rupa hingga terdengar nyaman dan menyenangkan.

Anda bisa bayangkan jika suara guru seni yang menerangkan tentang sebuah lukisan yang indah atau sebuah karya seni yang sangat menyentuh hati, pastilah diungkapkan dengan kata-kata yang lembut, dan bahasa yang mengandung estetika, bagi sebagian besar siswa tentu menyenangi suara guru seni mereka yang lembut namun tetap tegas (bukan kemayu).

Karena salah satu prinsip karya seni adalah berirama yang tidak monoton, maka kecenderungan guru seni juga akan menerapkan strategi pembelajaran dengan cara yang lebih berirama, baik intonasi maupun kejelasan dalam pembelajaran.

Jadi kelembutan dan suasana hati setiap karya yang dihasilkan oleh guru seni, juga akan berdampak pada pola pengejaran yang diterapkan di kelas, itulah sebabnya mengapa guru seni yang berbicara dengan intonasi yang lembut menjadikan mereka idolah bagi siswa maupun guru lainnya.

3. SANGAT BERSAHABAT

Cepat akrab, itulah kesan umumnya para guru seni yang mengajar di sekolah, dalam berkarya seni mereka memandang segala sesuatu ciptaan Allah Swt itu indah, setiap goresan dan citra yang di buatnya selalu dia usahakan indah setiap penikmatnya, maka jangan heran keakraban dengan penikmat seni menjadi bagian yang penting dalam setiap karya mereka.

Jika guru seni terlihat mudah akrab dengan siswa bahkan terkadang dia menganggap sebagai teman atau sahabatnya, tentu siapapun akan menyenangi sikap seperti itu. Sebaliknya guru yang yang otoritasnya sangat tinggi dan cenderung arogan termasuk sifat tidak menghargai orang lain, jangan berharap jadi guru yang diidolakan.

Jadi sifat yang mudah akrab dengan orang lain, inilah yang menjadikan guru seni menjadi idolah, tentu kaakraban yang saya maksudkan tetap dalam batas-batas etika seorang pendidik dengan peserta didiknya. Gaya guru yang berbicara akan tergambar secara jelas melalui sikap otoritas, ingin berkuasa atau tidak demokratis.

4. ANTUSIAS MENGAJARKAN SENI

Jika Anda pernah diajar oleh seorang guru seni yang tidak antusias mengajarkan seni pada anak-anak, maka yakinlah bahwa guru seni tersebut pasti sedang galau hehehe…iyalah, mengapa saya katakan galau, karena sebagai pekerja seni sekaligus pengajar di bidang seni, tentu akan bersemangat menjelaskan tentang sebuah karya seni, baik itu karya yang dihasilkan seorang seniman ternama, apalagi memberikan apresiasi karya siswanya.

Jika guru seni di idolakan, itu karena mereka terbiasa mengapresiasi sebiah karya senni dengan cara yang santun, dan menghargai sebuah karya, sejel apapun karya itu dihasilkan, tetap mereka apresiasi.

Dalam berkarya seni tidak ada istilah benar dan salah, yang ada adalah tekun atau tidaknya seseorang itu berkarya seni, itulah sebabnya mengapa guru seni cenderung antusias dalam mengajarkan ilmu atau pengetahuan tentang seni pada siswanya, kesungguhan itulah yang menyebabkan guru seni sering diidolakan.

Empat hal itulah yang menyebabkan mengapa guru seni sering diidolakan di sekolah, walaupun terkadang ada guuru seni belum menyandang guru idola, karena masing-masing pribadi orang berbeda.

Buat guru yang lainnya juga akan diidolakan di sekolah, bagaimana caranya, ya…minimal menerapkan empat hal di atas, jika belum mampu maka bisa diskusi sambil bertukar pikiran dengan mereka yang mencintai dunia seni, termasuk guru seni di sekolah.

Bagi semua guru seni di Indonesia yang mengajar di sekolah, anak-anak milenial saat ini membutuhkan profil seorang guru yang dapat dijadikan sebagai kawan atau sahabat untuk berdiskusi, mereka membutuhkan support untuk berkreasi dalam setiap kehidupan, karena mereka saat ini bergelut dalam dunia imajinasi digital. Semoga menginspirasi.

Salam kreatif, tetap berkarya

Baso Marannu

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *