PEDAGOGI KEMITRAAN SOLUSI GURU MENGHADAPI GENERASI MILENIAL

undefined

Judul Buku               :   Mendidik Generasi Z dan A : Marwah Era

                                        Milenial Tuah Generasi Digital

Pengarang                 :   J. Sumardianta & Wahyu Kris AW

Penerbit                    :   PT Grasinso

Tahun Terbit            :   2018

Tebal buku                :   287 halaman

Perkembangan teknologi internet, gawai, dan medsos yang begitu  revolusioner telah membuat banyak pihak terkesima. Banyak dari ereka tidak siap dengan dampak-dampak yang ditimbulkannya. Ironisnya, guru di era paperless masih harus ribet disibukkan urusan kertas administrasi. Sehingga, jangankan punyak waktu santai untuk memperhatikan suami dan anak-anak, untuk memperhatikan diri sendiri saja tak ada waktu. Itulah salah satu kontradisksi kehidupan guru pada era milenial’

Kaum Milenial merupakan generasi yang mulai dewasa pada era abad ke-21. Generasi ini  lahir akhir 1980-an hingga 2000-an. Saat ini mereka berusia antara 18 hingga 30 tahun. Mereka lebih akrab dan fasih dengan teknologi berbasis digital dan intternet. Mereka pengguna aktif internet. Keakraban dan kefasihan dengan teknologi internet merupakan penentu karakteristik penerasi milenial serba cepat, instan, menyukai kebaruan, dan terhubung membuat generasi ini sangat menghargai kreativitas, informalitas, fleksibilitas dan adaptabilitas. Oleh karena itu, guru mesti menyesuaikan dengan jiwa zaman milenial.

Buku ini ditulis oleh J. Sumardianta dan Wahyu Kris W. Keduanya tidak asing lagi dalam dunia karya tulis dan bergelut dengan dunia pendidikan. J. Sumardianta lahir di Kulong Progo, 23 November 1966. Beliau aktif sebagai penulis kolom artikel di Jawa Pos, Koran Tempo, dan Kedaulatan Rakyat. Ia juga aktff sebagai Co-Writer dalam beberapa buku lainnya. Disamping sebagai pendidik dan penulis, Sumardianta  juga seorang pembicara dan trainer serta hobi Traveling.  Sementara Wahyu  Kris AW yang lahir di Nganjuk 6 April 1979, disamping sebagai kepala sekolah SMP Kristen Pamaerdi Kebonagung, Ia juga biasa menulis esai, opini, puisi, dan resensi. 

Buku ini secara khusus membahas pendidikan era digital milenial yang saat ini masih sangat terbatas. Kehadiran buku ini dimasudkan untuk mengisi kekosongan itu. Mereka berdua juga ingin menjadikan  guru yang kece, guru yang tidak kalut dan panik karena gagal menyesuaikan diri dengan perubahan zaman. Berani mengakui kekurangan dan keterbatan yang ada dan cepat tanggap untuk membangun kolaborasi adaptif dan partisipatif dengan generasi milenial. 

Secara garis besar, buku ini dibagi dalam tiga bab, bab 1  diberi judul Menghadirkan Masa Depan Bagi Generasi Masa Kini, bab 2 berjudul Guru Zaman Semonov Murid Zaman Now, bab 3 berjudul Tetap Relevan di Tengah Derasnya Pergeseran Zaman. Namun, secara khusus sebelum masuk dalam pembahasan masing-masing bab, di dahului dengan sebuah prolog kemudian setelah pembahasan ketiga bab tersebut diakhiri juga dengan epilog.

Dalam Epilog yang berjudul Menjembatani Kontradiksi Dua Generasi, digambarkan bahwa teknologi mengubah gaya hidup, kehidupan mengalami pergeseran secara masif ke dalam platform digital. Ekosistem digital menjalankan peran dalam membentuk interkoneksi, dan mempermudah kegiatan sosial-ekonomi. Ia memberi akses bagi beragam kapabilitas, sumber-sumber daya, dan talenta untuk melahirkan inovasi. Dalam kondisi seperti inilah guru era milenial mesti beradaptasi dengan dunia baru pada era milenial. Agar pendidikan tetap berselancar di atas gelombang pergeseran. Bukan tenggelam di bawahnya.

Pembahasan bab 1  yang mematok tema Menghadirkan Masa Depan Bagi Generasi Masa Kini, mulai menegaskan bahwa guru, sebagai imigran digital, dipaksa mesti belajar dari generasi milenial yang lebih luwes beradaptasi dengan lingkungan baru, guru harus menempatkan diri sebagai pembelajar dari pengalaman mengajar generasi milenial dengan mengembangkan Pedagogi Kemitraan.  

Untuk dapat memahami dan  mengimplementasikan Pedagogi Kemitraan tersebut, kemudian para guru diajak untuk belajar pada kisah keberhasilan Jak Ma, founder dan owner Alibaba, yang bisa dianggap sebagai “guru”  yang pada era milenial. Jack Ma menuturkan bahwa tata nilai dapat dikembangkan dengan melatih imajinasi yang diharapkan melahirkan kreativitas dan kerja tim. Karena transasksi yang terjadi bukan “competition of knowledge”, tetapi “competition of wisdom.” Pemahaman akan ilmu pengetahuan dan teknologi memang penting tetapi yang lebih penting adalah internalisasi tata nilai untuk membangun budaya bagi suatu komunitas. 

Begitulah digambarkan bahwa Ibarat sebuah taman, sekolah adalah entitas budaya, kekayaan utamanya adalah keberagaman imajinasi dan kreativitas. Sekolah sepatutnya memberi ruang bagi keregaman siswa dan guru. Jadi sekolah menjadi ruang bagi siswa dan guru untuk belajar berbaur, beradaptasi, serta saling menghormati. Kalau diibaratkan dongeng adalah imajinasi dan sekolah adalah gudang imajinasi. Maka, ketika iamjinasi diabaikan maka sekolah akan menjadi gudang kosong. Imajinasi bisa diterjemahkan ke dalam tulisan (sistematika berpikir), lukisan (olah rasa), dan karya cipta (daya kreasi). Seperti yang dikatakan Einstein : imajinasi lebih hebat daripada pengetahun.  Imajinasi dan kreativitas adalah kata kunci yang membedakan sekolah dengan lenbaga lain. Keduanya menjadi bahan bakar utama dalam pembelajaran. Sekolah juga selalu terbuka siapa saja untuk berbagi dan mengejar mimpi.

Dari sini juga kemudian ditemukan fakta lain yang perlu diperhatikan adalah bahwa mindset tidak linear dengan tingkat kepintaran kognitif. Anak-anak yang pintar di sekolah tidak selalu memiliki growth mindset. Anak-anak yang dikenal kurang pintar di sekolah tidak selalu memiliki fixed mindset. Itu sebabnya, penting bagi sekolah untuk mengubah fixed mindset menjadi growth mindset. Pertanyaanya,  siapa yang harus diubah lebih dahulu ? Tentu saja mindset gurunya dulu yang diubah. Tidak mungkin guru fixed mindset mengubah murid menjadi growth mindset. Growth mindset : adalah pola pikir para pendobrak mereka berani menantang hambatan. Mereka adalah manusia-manusia berdaya juang. Mereka terbiasa menghadapi kegagalan. Mereka terbuka pada kritik. Konstribusi lebih penting daripada orasi. Fixed mindset : adalah pola pemuja kenyamanan. Mereka selalu menghindari tantangan. Mereka adalah manusia-manusia manja. Mereka takut mengambil keputusan. Mereka lebih suka membangun benteng-benteng anti-kritik, dan wacana adalah idolanya.

Dengan demikian, guru growth mindset tidak pernah menjadi tua karena mereka terus belajar sepanjang hayat dengan semangat yang terus menyala anak muda. Sementara,  Guru fixed mindset segera menjadi tua karena semangat belajarnya sudah padam sehingga mereka merasa sudah pintar. Guru growth mindset membuka kotaknya sehingga bisa melihat dunia yang luas. Guru fixed mindset terpenjara dalam kotaknya sendiri sehingga hanya seluas tempurung. Guru growth midset melihat perubahan teknologi informasi sebagai peluang untuk menemukan metode-metode baru pembelajaran. Guru fixed mindset melihat perubahan teknologi informasi sebagai ancaman yang mengganggu ‘kemapanan’ metode pembelajaran. Bagi anak-anak muda era milenial dengan growth mindset menghindari jebakan fixed mindset.

Berikutnya, dalam bab 2, yang mengulas tentang  Guru Zaman Semonow Murid Zaman Now, pada awal tulisan mengilustrarikan tentang fenomena kehadiran smarphone yang kelihatannya dapat membantu orang melarikan diri dari kesepian. Namun, sesungguhnya, mereka kehilangan kesempatan menerima dan menemukan diri sendiri. Tanpa kemampuan menjadi diri sendiri, orang tidak mungkin dapat menerima orang lain sebagaimana adanya. Fenomena kesepian ditengah keramaian (lonely crowd) pun dengan cepat menyeruak.

Pembelajaran kontekstual pada era milenial hendak membekali murid 10 (sepuluh) ketrampilan sukses agar sukses mengantisipasi masa depan yang sangat identik internet of think (IoT). Pertama, sense of making, yaitu kemampuan memaknai lebih dalam atas yang diekspresikan. Kedua,  social intelligence, yaitu kemampuan berhubungan dengan orang lain secara langsung dan mendalam merasakan interaksi yang diharapkan. Ketiga, adaptive thinking, yaitu kemampuan berpikir guna menghasilkan solusi bukan sekedar memenuhi aturan. Keempat, cross-cultural comptency, yaitu kemampuan bekerja dalam budaya yang beragam. Kelima, computational thingking, yaitukemampuan menerjemahkan data ke dalam konsep abstrak dan memahami penalaran berdasarkan data. Keenam, new media literacy, yaitu kemampuan mengakses media baru secara kritis, mengembangkan konten, dan menggunakan media guna berkomunikasi secara persuasif. Ketujuh, trans-disciplinarity, yaitukemampuan memahami konsep lintas disiplin ilmu. Kedelapan, design mindset, yaitu kemampuan merancang, mengembangkan tugas dan proses kerja sesuai dengan hasil yang diharapkan. Kesembilan, cognitive load management, yaitu kemampuan membedakan, menyaring, dan memahami informasi guna memaksimalkan fungsi kognitif dengan alat dan teknik bervariasi. Kesepuluh, virtual collaboration, yaitu kemampuan bekerja secara produktif, mendorong keterlibatan, dan menunjukkan kehadiran sebagai anggota tim virtual.  

Kemudian disusul dengan pembahasan tentang perlunya para guru untuk nenanamkan nilai-nilai kebaikan kepada muridnya. Ini digambarkan dalam kisah Kisah Flaming dan Churchill yang memberi bukti bahwa kebaikan tak pernah sis-sisa. Kebaikan adalah benih yang terus tumbuh hingga menjadi pohon. Pohon kebaikan selalu menghasilkan buah kebaikan. Di dalam buah kebaikan, ada biji kebaikan. Jika ditanam kembali jadilah benih kebaikan dengan jumlah lebih banyak, rasa lebih enak, dan aroma lebih segar.  Zaman sekarang, kehidupan masyarakat kita semakin jauh dari tanaman kebaikan, pasalnya semua diukur dengan uang. Semua dinilai dengan materi. Jika tidak menghasilkan keuntungan maka seseorang tidak layak dijadikan teman.  Howard G. Hendricks dalam buku Teaching to Change menuliskan bahwa hakikat mengajar adalah memberikan perubahan. Mengajar adalah mengubah paradigma yang memapankan, serta mengubah tatanan yang menyamankan. Ditengah tumpukan admistratif, pendidikan pembawa perubahan akan terus bergerak menanamkan perubahan di kelas-kelas demin terciptanya generasi penanam kebaikan.

Pada bagian lain para guru juga diminta untuk mempersiapkan diri menghadapi tingkat minat baca dan menulis yang masyarakat yang masih rendah. Masyarakat kita lebih suka bercerita ketimbang membaca apalagi menulis. Ketertinggalan literasi kita semakin kentara saat teknologi informasi menyerbu kecepatan yang tak terduga sebelumnya. Produk gadget baru berganti dalam hitungan minggu. Apa yang baru hari ini segera menjadi usang sebelum hari berganti. Kecepatan dan kebebasan mengakses informasi sudah menjadi bagian gaya hidup sehari-hari. Media sosial yang terbuka menjadi platform favorit untuk menyampaikan pendapat dan menyebarkan berita. Sayangnya, penyampaian pendapat dan penyebaran berita tersebut tidak disertai dengan klarifikasi dan konfirmasi lebih dahulu. Akibatnya dunia maya penuh dengan campur aduk fakta dan hoaks. Dalam konteks demikian, literasi menjadi penting dan mendesak. Literasi bukan sekedar membaca dan menulis. Literasi terkait erat dengan cara berpikir, cara mengolah informasi, cara bersikap, dan cara menyelesaikan masalah.

Pada bab 3, yang bertema Tetap Relevan Di Tengah Derasnya Pergeseran Zaman, kembali menegaskan kepada para guru, bagaimana merespon gegap gempita banjir informasi era digital yang mendapat sumbangan terbesar dari teknologi online. Orang keranjingan jejaring sosial, mengirim dan menerima e-mail, chatting WhatApps, posting di facebook, instagram, dan Twitter. Berbagai aktivitas itu terkadang dilakukan secara simultan. Anak-anak murid sekolah, dan mahasiswa mengerjakan tugas seraya mendengar musik dan update status. Keterpesonaan terhadap smartphone mengancam gaya kepemimpinan atas urusan-urusan dan daya konsentrasi yang berperan sentral dalam proses kreatif. Kini manusia digiring menuju kedangkalan, serba praktis dan autistik. Pola pikir dan perilaku orang jadi dangkal karena terlampau dimanjakan internet.

Kini arus utama revolusi Teknologi Informasi Komunikasi (TIK)  sedang mencapai puncaknya ketika piranti tangan (gadget) menjadi sahabat setia. Saat komputer jaringan mengecil berbentuk telepon genggam pestanya berubah jadi inaugrasi bergerak, kapan saja dan dimana saja. Revolusi TIK merupakan sumber dari segala perubahan tanpa kecuali Pendidikan. Ada tiga pergeseran yang didorong TIK. Pertama, perubahan dari eksklusif menjadi inklusi. Dinding penyekat sosial dirubuhkan internet. Masyarakat makin inklusi dan transparan. Kalau profesi pendidik ingin tetap relevan dan berkelanjutan, guru harus melek internet. Kedua, pergeseran vertikal ke horizontal. Model relasi kuasa guru-kurid dan dosen-mahasiswa sudah tidak relevan lagi.Media sosial mengubah lanskap sosial. Horizontalisasi media sosial mengubah lanskap pendidikan. Guru sejajar dengan murid. Era no body (bukan siapa-siapa) menjadi somebody (terpandang). Ketiga, konsekuensi inklusivitas dan horizontalisasi, terjadi pergeseran indvidual ke sosial.

Guru dan murid manyatu dalam komunitas. Sudah bukan zamannya guru buta internet dan tuli media sosial. Watak media sosial itu dialog (interaktif). Beda dengan perilaku zaman old yang cendrung me monolog saat berinteraksi dengan murid di kelas. Para guru bakal mati gaya bila di era medsos cendrung eksklusif, pola relasinya vertikal dan individual.Demikian pula pekerja di sektor pendidikan. Semua mesti siap menggunakan teknologi baru. Guru merupakan profesi yang tetap dibutuhkan. Namun job-nya tak sama lagi dengan guru turu dan kapur yang selama ini dikenal. Guru tetap dibutuhkan sebagai jebakan masa depan peserta didik. Guru hadir memberikan deep understanding (pemahaman mendalam) dan deep reasoning (berpkir mendalam) 

Dengan demikian, belajar bukan sekedar mendengarkan penjelasan guru. Belajar bukan sekedar duduk manis menghafal buku. Bukan pula mengejarkan setumpuk soal. Esensi belajar adalah berdialog dan berinteraksi. Dikatakan bahwa seorang guru kece selalu punya kreativitas untuk menghadirkan pembelajaran kontekstual. Guru Kece selalu tanggap menangkap peluang di depan mata lalu mengolahnya menjadi pembelajaran. Guru Kece bisa mengubah setiap kejadian menjadi teladan.

Belajar dari Tagore dan Romo Mangun adalah sosok pendidik humanis. Pemikirannya lebih luas mendahului zamannya. Konsep pendidikan yang mereka tawarkan kemanusiaan. Penddikan tak lain adalah upaya memanusiakan manusia. Pendidikan mesti menjadi tanggung jawab bersama sekolah dan keluarga. Itu sebabnya, sinergi sekolah dan keluarga tak bisa ditawar lagi. Untuk mempererat sinergi dengan keluarga, sekolah perlu membuka pintu lebar lagi. Sekolah perlu meningkatkan kepasitas diri menjadi tempat belajar hanya bagi siswa tapi juga bagi keluarga. Keluarga pun perlu membuka diri untuk mau belajar dan terus belajar karena mereka sedang mendampingi kids zaman now. 

(Ambo Masse, Basmar Academy)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *