PEMBUNUH KREATIVITAS ANAK

Ada pemandangan yang menarik untuk kita perbincangkan lebih lanjut, suasana di rumah, di mall, di kantor bahkan di sekolah sekalipun, apa itu, ‘candu smartphone’ bagi anak-anak, pada suatu kesempatan saya menanyakan pada teman kantor, “kok, anaknya begitu asyiik main HP?” dengan ringan dia menjawab “dari pada dia mengganggu saya, lebih baik dia main handphone saja pak” heheh…enteng banget jawabnya, padahal secara kasat 
mata, efeknya selain pengaruh pada mata, apakah film yang diputar sesuai dengan umurnya, bahkan anak terlihat kurang bergerak dan kemungkinan seabrek efek negatif yang ditimbulkan jika tidak terkontrol.

Sahabat @basmaracademy yang kreatif, kesempatan kali ini saya tidak membahas hal yang diungkapkan di atas, karena perlu ilmu tersendiri, terutama dampak kesehatan dan psikologis. Tema kali ini saya membahas tentang pembunuh kreativitas bagi anak-anak, terutama tekanan psikologis yang mematikan kreativitas anak di usia dini. Pada saat Tk hingga kelas tiga SD, anak-anak merasakan kegembiraan bersekolah, namun beberapa diantara mereka memasuki kelas empat SD kadang malas-malasan bahkan tidak suka dengan sekolahnya, mengapa ya?

Penelitian Dr. Amabile yang dituliskan ulang oleh Daniel Goleman dkk (2005) beberapa pembunuh kreativitas yang utama bagi anak-anak yang biasanya terjadi di sekolah diantaranya; pertama Pengawasan, berkeliling mengawasi anak, membuat mereka seolah terus-terusan diperhatikan, sehingga takut mengambil risiko dan berkreasi, kedua Evaluasi dan kontrol berlebihan, membuat anak akan ragu bahkan takut bagaimana nantinya orang lain menilai apa yang dia kerjakan bahkan bisa tertekan, ketiga Hadiah, pemberian hadiah berupa bintang emas, uang atau mainan yang berlebihan, jika terlalu sering akan menghilangkan kesenangan intrinsik aktivitas kreatif, keempat kompetisi, menempatkan anak pada menang-kalah, juara dan tidak juara, terutama hanya satu yang dapat meraih puncak menyebabkan mereka berkreasi. Kelima membatasi pilhan, mengatakan pada anak aktivitas mana yang boleh secara ketat, lebih baik biarkan anak memilih apa yang menarik untuk mereka.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *