TANTANGAN GURU SENI RUPA DI ERA DIGITAL

Beberapa hari ini, saya kembali merenung dan mengenang masa-masa kuliah di IKIP Malang (Universitas Negeri Malang), Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni Jurusan Pendidikan Seni Rupa dan Kerajinan. Konon saat itu jurusan yang mencetak guru seni (bukan seniman) sangat minim peminatnya, dan lebih menyedihkan lagi dalam perjalanan kuliah tidak sedikit yang berguguran (dropout) dengan berbagai alasan, salah satunya idealisme kerja seni murni yang terus menantang mereka.

Sahabat basmaracademy, kuliah di jurusan seni rupa saat itu sangat dilematis, terutama menghadapi dunia kerja di masa depan, apakah terjun sebagai seniman murni (Fineart) atau bergelut di didunia seni terapan (appliedart), sementara keluaran IKIP Malang menyandang gelar guru seni rupa, namun setelah beberapa tahun berselang teman-teman saya sebagian besar memang tetap terjun di dunia pendidikan seni rupa bahkan ada juga yang menjadi kepala sekolah, dosen dan bahkan menjadi desainer pada level internasional, namun ada juga yang memilih tetap menjadi seniman murni.

Pesatnya perkembangan teknologi saat ini juga pernah menjadi bahan diskusi kami dua puluh lima tahun yang lalu, apakah teknologi akan menggeser semangat berkarya dengan tangan (manual) tanpa sentuhan komputer, saat ini apa yang pernah kami hayalkan sudah semakin nyata tanpa sekat. Hampir seluruh mata kuliah yang diajarkan saat saya kuliah dulu, sudah dapat dipelajari dengan mudah dengan berbagai pilihan di youtube atau berbagai aplikasi di smartphone, tanpa harus belajar satu semester (16 kali pertemuan).

Inilah tantangan yang mestinya menjadi peluang, pendidikan seni rupa tetap harus ada, bahkan saat ini menjadi idola beberapa kalangan remaja melanjutkan kuliah di dunia seni, seperti pendidikan desain komunikasi visual.

Jika dulu kami hanya menggambar visual yang realistis dan sederhana, justru saat ini berkembang tokoh visual berbentuk kartun yang imajinatif menghiasi dunia game dengan berbagai karakter, walaupun saya belum menemukan secara jelas tokoh yang digandrungi anak-anak hingga remaja ini yang berbasis lokal, yang mengeksplore budaya Indonesia.

Gaya berpakaian yang di tampilkan di Drama Korea justru menjadi kiblat dunia fashion di Indonesia, Marvel yang terus menampilkan tokoh heroik yang baru menjadi jualan yang laku di industri perfilman, termasuk saat ini aplikasi desain yang serba instan dengan mudahnya kita download di komputer atau smartphone menjadi hal yang sangat popular di kalangan remaja.

Inilah tantangan terbesar yang dihadapai pada pendidik seni rupa dan desain di dunia pendidikan, mereka harus meng-update ilmu seni terapan yang selama dibangku kuliah belum didapatkan, mereka harus mengikuti tren yang berkembang di masyarakat, bukan hanya di Indonesia, tapi sudah mendunia.

Namun sangat menyedihkan juga, ketika Anak-anak sekolah (remaja) diajarkan seni rupa dan desain secara global, sementara mereka lupa akan akar budaya mereka sendiri sebagai orang Indonesia. Sebagai pendidik, kita tetap memikul tanggungjawab moral buat anak-anak kita dimasa mendatang, mereka harus memahami kearifan lokal yang sudah tidak dilirik oleh sebagian besar remaja Indonesia, walaupun satu sisi kita tetap memperkenalkan perkembangan seni dan budaya global.

Indonesia kaya akan berbagai kreasi seni mulai dari ujung Aceh hingga Papua, justru inilah tantangan para guru seni rupa dan desain untuk memadukan karya-karya seni yang dihasilkan para pelajar kita yang memiliki landasan budaya ke Indonesiaan, jangan larut dengan heroisme Marvel, Jangan terlalu membanggakan gaya robot Transformer tanpa ada keingingan men-inovasi dan menggali karya yang berakar budaya Nusantara. Justru keragaman budaya Indonesia menjadi peluang yang besar bagi pendidik untuk menggugah pelajar menghasilkan karya seni rupa dan desain yang lebih kreatif. Bagaimana?….Berani Mencoba tantangan yang lebih besar? Saya yakin Guru Seni Rupa mampu mewujudkannya…

Salam kreatif, tetap berkarya

Baso Marannu.

2 comments

  1. Dengan mempelajari seni rupa, kreativitas siswa akan muncul. Seiring dengan kemajuan zaman, ladang pekerjaan dengan kompetensi seni rupa semakin dibutuhkan. Ini bisa memotivasi siswa agar semangat belajar dan berkarya. Seni rupa akan sejalan dengan kebutuhan industri estetika dan artistik.
    ( maaf ini opini saya alumnus jurusan Seni Rupa yang beralih mengajar Bahasa Indonesia karena di sekolah kekurangan guru )

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *