VIRAL ANTARA ESTETIS VS ETIS

Saat ngobrol di warung kopi, kantor atau di kampus, entah itu orang tua, remaja, bahkan anak2 yg masih bau kencur diskusinya seperti ini “eh, kamu udah nonton di youtube video ini? Lagi viral loh, bahkan rame dibicarakan di Instagram dan di Twitter” atau sejenisnya, yg intinya adalah pemberitaan di media sosial yg lagi booming. Istilah Viral dalam KBBI berarti “virus atau segala sesuatu yg berifat menyebar dgn sangat cepat. Kata viral berasal dari 2 kata, virus dan virtual. kata Viral yang belakangan ini sering kita dengar dapat diartikan sebagai sesuatu hal informasi, kejadian, berita dan lainnya yang menyebar luas dan secara cepat, persoalannya adalah apakah sesuatu yang viral itu bernilai estetis (keindahan) dan mengandung Etis (perilaku yang disepakati secara umum). Estetis dari bahasa Yunani Aisthetika, pertama digunakan filsuf Alexander Gottlieb Baumgarten tahun 1735 yakni ilmu tentang hal yg bisa dirasakan lwt perasaan, jika dihbngkan dg karya yg saat ini tren, termasuk yg viral, maka yg dikembangkan adalah Theory of play, dimana berkarya didasarkan pd having for fun, fenomena ini cenderung berkembang sejak zaman postmodern, semangatnya pd Unity and harmony in diversity. Marilah kita mengolah informasi yang sedang Viral secara bijak, jangan hanya sekedar mengejar rating, mengumpulkan follower, memperkaya para youtuber sehingga nilai estetis dan etis terabaikan.

Bagaimana melihat sesuatu itu estetis, ada tiga aspek pandangan yg berkembangan memahai nilai2 tersebut, Pertama Absolutisme; doktrin tentang pembakuan suara/pengakuan mengenai keindahan. Penilaian dgn doktrin ini tdk dpt ditawar lagi, artinya: karya yang tidak memenuhi syarat maka karya itu tak mempunyai nilai. Kedua Anarki; doktrin ini menyerahkan penilaian kepada masing2 pribadi secara murni, subjektif dan tak perlu tanggung jawab. Ketiga Relativisme; doktrin ini menggunakan kriteria atau pembakuan tentang nilai estetika yg tidak mutlak (absolut), tetapi masih objektif dalam pemikiran karena karya berasal dari keinginan dan motivasi manusia abadi.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *